MENGAPA ORANG MUSLIM TERBAGI MENJADI BERBAGAI ALIRAN/AJARAN DENGAN PEMIKIRAN YANG BERBEDA?
Pertanyaan:
Seluruh umat muslim mengikuti satu kitab suci Al-Qur'an (yang sama), namun mengapa ada beberapa aliran dan ajaran pemikiran yang berbeda di antara mereka?
Jawab:
1) Kaum Muslim harus bersatu, Saat ini umat Muslim terpecah-belah diantara mereka. Kejadian ini bukan dikarenakan oleh Islam semata. Karena Islam percaya untuk menyatukan diantara para pengikutnya. Dalam Ayat suci Qur'an Surat Ali Imran ayat 103 menyatakan :
"Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai-berai. Dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh- musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu jadilah kalian karena nikmat Allah orang- orang yang bersaudara. Dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian, agar kalian mendapat petunjuk." (QS Ali Imran: 103)
Ayat ini memerintahkan seluruh kaum muslimin untuk bersatu di atas jalan Allah dan melarang kita untuk berpecah-belah. Disebutkan dalam ayat ini, bahwa persatuan yang diperintahkan adalah persatuan di atas kitab dan sunnah atau di atas tali Allah. Barang siapa yang melepaskan diri atau mengambil jalan lain selain jalan Allah, maka dialah yang memisahkan diri dari jama'ah kaum muslimin dan berarti dialah yang menyebabkan terjadinya perpecahan. Dan Firman Allah SWT dalam Surat An-Nisa ayat 59 :
"Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya ". (QS An-Nisa: 59)
Pada ayat ini, Allah menyeru kepada orang yang beriman untuk mentaati Allah, mentaati Rasul dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan/pemimpin atau penegang mandat) di antara mereka sebagai wujud keimanan kepada Allah dan hari akhir dalam bentuk pelaksanaan hukum dan amanat di antara manusia. Ketaatan kepada Allah, Rasul dan ulil Amri serta mengembalikan setiap perselisihan kepada Allah dan Rasul-Nya di dalam ayat ini dinyatakan sebagai persyaratan keimanan kepada Allah dan hari akhir "yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya". Adanya larangan untuk membuat sekte dan pembagian dalam Islam Dalam Al-Qur'an dinyatakan bahwa:
"Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka terpecah menjadi beberapa sekte (golongan), tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanya terserah kepada Allah: kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat" (QS 6:159)
Dalam ayat tersebut, Allah swt berfirman bahwa seseorang harus memisahkan diri dari mereka yang memecah belah agama dan membagi -baginya menjadi sekte-sekte (golongan-golongan). Namun ketika ada yang bertanya kepada seorang Muslim, "siapa anda?", jawaban yang umum adalah "Saya adalah seorang Sunni" atau "Saya adalah seorang Syiah". Beberapa menyebut diri mereka sendiri Hanafi atau Syafi'i atau Maliki atau Hambali. Beberapa menjawab "Saya seorang Deobandi" dan yang lainnya menjawab "Saya seorang Barelvi". Nabi Kita adalah seorang Muslim Ketika ada yang bertanya pada kaum Muslim, "Siapakah nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam? Apakah beliau seorang Hanafi atau Syafi'i, atau Hambali atau Maliki?" Tidak! Beliau adalah seorang Muslim, sebagaimana semua nabi dan rasul Allah sebelum beliau. Ini disebutkan dalam Al-Qur'an surat 3: 52-53 bahwa nabi Isa / Yesus Alaihi Salam adalah seorang Muslim.
"Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: "Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri. Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)". (QS 3:52-53)
Lebih lanjut, dalam Al-Qur'an surat 3:95, disebutkan bahwa Ibrahim Alaihi Salam juga bukan seorang Yahudi atau Nasrani, melainkan seorang Muslim.
"Benarlah (apa yang difirmankan) Allah". Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik." (QS 3:95)
Qur'an bersabda untuk memanggil dirimu sendiri Muslim Jika seseorang bertanya kepada seorang Muslim tentang siapakah dirimu, maka dia harus menjawab "Saya adalah seorang MUSLIM, bukan seorang Hanafi atau Syafi'i". Surat Fussilat (41) ayat 33 menjelaskan:
"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: 'Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri dalam Islam (Muslim)?" (QS 41: 33)
Al-Qur'an berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri dalam Islam". Dengan kata lain, katakanlah, "Aku adalah seorang Muslim". Nabi SAW mendiktekan surat untuk raja-raja non-Muslim dan para penguasa dan mengajak mereka untuk masuk Islam. Dalam surat tersebut, beliau menyebutkan sebuah ayat dalam Al- Qur'an, yaitu dari Surat Ali Imran, ayat ke 64:
"Katakanlah: "Saksikanlah, bahwa kami adalah Muslim (orang-orang yang tunduk/ berserah diri kepada kehendak Allah." (QS 3: 64)
Kita harus menghormati semua ulama-ulama besar Islam, termasuk empat Imam: Imam Abu Hanifa, Imam Syafi'i, Imam Hambali dan Imam Maliki (semoga rahmat Allah beserta mereka). Mereka adalah ulama-ulama besar dan semoga Allah membalas segala kerja keras dan penelitian mereka. Boleh saja setuju dengan pandangan-pandangan dan riset yang dilakukan oleh Imam Abu Hanifa atau Imam Syafi'i dll. Tapi, jika dihadapkan pada pertanyaan "siapakah anda?", jawaban yang semestinya hanyalah "saya adalah seorang Muslim". Beberapa pendapat menyitir hadist Nabi yang diriwayatkan oleh Sunan Abu Dawud No. 4579. Dalam habist tersebut, Nabi SAW diriwayatkan bersabda, "Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan". Hadist tersebut meriwayatkan bahwa Nabi memprediksi tentang terpecahnya umat menjadi 73 golongan. Beliau sama sekali tidak menyebutkan bahwa Muslim harus membagi diri mereka menjadi 73 golongan. Al-Qur'an yang mulia menyuruh kita untuk tidak membuat golongan atau sekte. Mereka yang mengikuti ajaran Qur'an dan Hadist yang sahih dan tidak membagi diri dalam golongan atau sekte adalah orang-orang yang berada di jalan yang benar. Menurut Hadist Riwayat Tirmidzi no.171, Nabi SAW diriwayatkan bersabda: "Umatku akan terbagi menjadi 73 golongan, dan kesemuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan". Lalu salah satu sahabat bertanya pada Rasulullah, golongan manakah itu. Rasulullah menjawab, "itu adalah golongan dimana aku dan pengikutku besertanya". Al-Qur'an yang mulia menyebutkan dalam beberapa ayat, "Patuhi Allah dan patuhi Rasulnya".
Seorang Muslim yang benar seharusnya hanya mengikuti Al-Qur'an yang mulia dan Hadist yang Shahih. Siapapun boleh setuju dengan pandangan-pandangan ulama selama tidak bertentangan dengan Al-Qur'an dan Hadist yang shahih. Jika ada pandangan-pandangan yang bertentangan dengan firman Allah atau sunah Nabi, maka pandangan tersebut tidak perlu diikuti, meskipun pandangan tersebut adalah pandangan ulama yang terpelajar. Seandainya semua Muslim membaca Al-Qur'an dengan penuh pemahaman dan mengikuti Hadist shahih, Insya Allah, sebagian besar perbedaan bisa diselesaikan dan kita bisa bersatu sebagai Umat Muslim.
Dikutip dari sesi tanya jawab Zakir Naik.
: --just share--
ane sih, jgnkan duduk bareng temen ke kajian... ada temen yang baru mulai posting2 hal2 berbau syar'i aja, udah seneng. Like/love-in deh tu banyak2. Mulai jalin komunikasi..
Lalu jgnkan duduk bareng di kajian, dia udah mulai nyapa kita aja, udah seneng bgt.
jgnkan duduk bareng di kajian, ada temen yg udh keliatan br mau mulai bljr ilmu syar'i aja, udh bahagia banget...
Ana belum sampe pada tahap ngejudge temen ana ini ngaji di asatidz A, asatidz B.
Ketika ada temen yang udh keliatan mulai ngaji aja, ana udah seneng bgt. Selanjutnya, selipkan nama mereka dalam doa2 kita.
Itu juga salah satu alasan knp ana suka posting hal2 yang berbau syar'i... Biar mudah2an, ketika mereka mau mulai belajar, kita lah salah satu orang yang mereka hubungi.. Jadi bisa kita bimbing ke jalan yang Haq dengan pemahaman yang benar, insyaAllaah...
[14/4 4.41 PM] Sulthan Sman1tra: Ini juga pentingnya kita menjaga adab dan akhlak kita. nasehati mrk ketika hanya berdua.. seriusan, itu lebih mengena ke hati. Jangan sampe niatan dan nasehat yang baik, justru malah mempermalukan mereka.. karena gimanapun, mereka saudara2 kita. Apalagi klo mereka keliatan udh mau mulai belajar.. rangkul dan peluk hangat mereka...
Jangan sampe, belum apa2, udah main dalil... Waduuh.. bisa shock saudara2 kita itu...
Kalau Allah kuatkan mereka, Alhamdulillah...
Tp dari sisi psikologis, gimana?
[14/4 4.42 PM] Sulthan Sman1tra: Ana berpandangan, ketika kita ingin menyampaikan hal/nasehat yg baik, SELAMA ADA cara yang lebih baik, sampaikan dengan baik..
[14/4 4.44 PM] Sulthan Sman1tra: Allahu a'lam...
Ana bener2 miskin ilmu... cuma baru segitu yang ana tau... Mudah2an Allah menjaga kita semua ya.. dan memberikan kita ke-istiqomah-an untuk terus berada di jalan yang haq. Dijalan yang Allah ridhoi..
[14/4 4.47 PM] Sulthan Sman1tra: DULU
KITA
JUGA
GITU
.
.
.
.
.
https://youtu.be/X604vHBtyU8
*tematik sih, tp insyaAllaah bisa melembutkan hati para pendengarnya.. 💕
[14/4 4.49 PM] Sulthan Sman1tra: keberatan kayaknya bahasannya klo soal beginian ya syaikh.. jgnkan soal manhaj, tahdzir mentahdzir, dll dsb nya, kita giliran ilmu sholat aja masih belepetan kan.. terutama ana sih... Belum lagi soal ilmu tajwid, masih lebih banyak gk tau nya..
Yang penting buat ana skrg mah ilmu nya aja terus.. ketika ilmunya bersumber dari Al-Quran, Hadits shohih dan diamalkan oleh golongan umat yg dipastikan masuk surga, yaudah kita ikuti dan amalkan semampu kita...
Mengutip perkataan ustadz Yazid di kajian yang lain,
yang tau dokter itu bener atau gak, ya dokter.
yang tau konstruksi bangunan itu udah baik atau belum, ya sesama arsitek
yang tau ilmu syar'i mana yang baik dan bener, ya para ulama...
Biarlah soal tahdzir2an, otoritasnya pada ulama. Pada orang2 yang jauh lebih berilmu dari kita.
Apalah artinya kita, apalah artinya ana, cuma penuntut ilmu yang miskin ilmu, yg sedikit juga amalnya...
Kita bareng2 perbaiki diri, menuntut ilmu syari dengan pemahaman yang bener.
Karena ngaji, bukan kyk makan sambel. Makin banyak ngaji, makin pedas perkataannya.
Allahu a'lam.
Nasehat ini terutama ditujukan buat ana pribadi.
Ibnu Abdil Barr dalam kitabnya Jami’ bayani al-ilmi wa fadhlihi membagi manusia menjadi 3 tingkatan:
.
1. Al Mujtahid
Mereka adalah orang yang melihat dalil serta memiliki ilmu alat (yang paling penting bahasa Arab serta ushul fiqh) untuk menilai dalil sehingga dapat menarik kesimpulan/hukum dari dalil tersebut.
.
2. Al Mutabi'
Mereka adalah orang yang mengikuti mujtahid serta memahami latar belakang mujtahid dalam menyimpulkan hukum. Ini adalah kondisi thalabul ilmi yang serius.
.
3. Al Muqollid
Mereka adalah orang yang memahami pendapat seorang guru tanpa mengetahui dalilnya (taqlid)
.
________________
Dijelaskan oleh ustadz Ammi Nurbaits -حفظه الله-
Tertidur Mendengar Khotbah Jumat
Pertanyaan:
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ustadz saya mau bertanya, apakah tidur ketika sholat diperbolehkan sedangkan kewajiban seseorang adalah mendengarkan khotib saat berkhutbah?
wassalamu’alaikum
Dari: Adit
Jawaban:
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Tidur ketika mendengarkan khutbah Jumat, merupakan salah satu kesalahan besar yang dianggap lumrah dalam kegiatan ibadah kaum muslimin. Layaknya tidak mungkin lagi ada khutbah tanpa makmum yang tertidur. Seolah khutbah Jumat adalah kesempatan paling tepat untuk tidur. Sampai ada pameo yang menyatakan, bagi penderita insomnia yang sulit tidur, bisa diobati dengan mendengarkan khutbah Jumat. Kita ucapkan, Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiun. Butuh perjuangan lebih panjang, untuk bisa mengobati penyakit ini. Menumbuhkan kesadaran umat untuk bisa memahami arti penting nasehat dalam khutbah Jumat.
Bisa jadi, ini sebab utama mengapa umumnya kaum muslimin sulit untuk menjadi umat yang terdidik, meskipun setiap pekan mereka mendengarkan ceramah dan khutbah.
Berikut beberapa dalil yang menunjukkan celaan tentang fenomena ini:
Pertama, Allah perintahkan kaum muslimin untuk perhatian dengan nasehat
Allah berfirman,
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Apabila dibacakan Alquran, dengarkanlah dan diamlah, agar kalian mendapatkan rahmat.” (QS. Al-A’raf: 204)
Diriwayatkan dari Aisyah, Said bin Jubair, Atha, Mujahid, Amr bin Dinar dan beberapa ulama lainnya, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan perintah untuk diam dalam rangka mendengarkan khutbah Jumat (Zadul Masir, 2:183).
Perintah diam ketika mendengarkan khutbah merupakan perintah untuk memperhatikan khutbah dengan seksama. Karena itulah, sebagian ulama menjadikan ini sebagai dalil larangan untuk tidur dan lalai ketika mendengarkan khutbah.
Kedua, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammengajarkan berbagai adab ketika Jumatan, agar makmum bisa konsentrasi mendengarkan khutbah. Diantaranya,
a. Larangan duduk sambil memeluk lutut
Hadis dari Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu,
أَن النَبيَ صَلى اللهُ عَليه وَسَلمَ نَهَى عَنْ الْحَبْوَةِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang duduk memeluk lutut pada hari ketika imam sedang berkhutbah. (HR. Abu Daud, Turmudzi dan dihasankan al-Albani).
Ketika menyebutkan hadis ini, an-Nawawi mengutip keterangan al-Khithabi:
نهى عنها لأنها تجلب النوم فتعرض طهارته للنقض، ويمنع من استماع الخطبة
“Perbuatan ini dilarang, karena ini bisa menyebabkan ngantuk, sehingga bisa jadi wudhunya batal, dan terhalangi mendengarkan khutbah.” (al-Majmu’, 4:592)
b. Perintah untuk berpindah ketika ngantuk
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الجُمُعَةِ فَلْيَتَحَوَّلْ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ
“Apabila kalian ngantuk pada hari Jumat, maka berpindahlah dari tempat duduknya.” (HR. Abu Daud, Turmudzi dan dishahihkan al-Albani).
Ketiga, kebiasaan masyarakat dan orang sholeh masa silam, mereka mencela keras orang yang tidur ketika mendengarkan khutbah Jumat.
Dari Ibnu Aun, bahwa Muhammad bin Sirin (ulama tabiin) menceritakan,
كانوا يكرهون النوم والامام يخطب ويقولون فيه قولا شديدا
“Mereka (para sahabat) sangat membenci orang yang tidur ketika imam sedang berkhutbah. Mereka mencela dengan celaan yang keras.”
Ibnu Aun mengatakan, ‘Kemudian di kesempatan yang lain, saya bertemu lagi dengan Ibnu Sirin. Beliau pun bertanya, “Apa komentar sahabat tentang mereka?” Ibn Sirin mengatakan,
يقولون مثلهم كمثل سرية أخفقوا
“Mereka berkomentar, orang yang tidur ketika mendengarkan khutbah seperti pasukan perang yang gagal.” Artinya, tidak mendapatkan ghanimah sedikitpun. (Tafsir al-Qurthubi, 18:117)
Sungguh jauh berbeda kebiasaan masyarakat di zaman kita dengan mereka. Tidur ketika mendengarkan khutbah dianggap tindakan yang menyebabkan pelakunya layak untuk dicela. Semantara bagi masyarakat kita, semacam ini dianggap sebagai hal yang biasa, tanpa ada perasaan bersalah dan menyesalinya.
Apa yang Harus Dilakukan Agar Tidak Ngantuk?
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghindari ngantuk dan tidur ketika mendengarkan khutbah:
Pertama, niatkan untuk mendapatkan ilmu.
Jadikan kehadiran kita ketika Jumatan sebagai sarana untuk mendapatkan tambahan ilmu. Kita berprinsip, seusai khutbah, harus ada hal baru yang bisa dicatat. Niatkan hal ini dari sejak berangkat, semoga menjadi tambahan pahala.
Dengan prinsip ini, jumtan kita tidak hanya menjadi rutinitas tak bermakna. Namun betul-betul untuk dzikrullah dan mendapatkan nasehat. Kita akan lebih bisa konsentrasi, menatap khatib dengan seksama, dan menananmkan isi khutbah yang baik ke dalam jiwa. Kita bisa tiru bagaimana sikap sahabat yang memfokuskan pandangannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamketika mendengarkan khutbah.
Kedua, jangan lupa mandi.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammemerintahkan kita untuk mandi ketika hendak bernagkat Jumatan. Beliau bersabda,
غُسْل يوم الجُمُعة واجبٌ على كلِّ محتلم
“Mandi pada hari Jumat, wajib bagi setiap orang yang sudah baligh.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dengan mandi, kondisi anda akan lebih segar, dan tidak berbau ngantuk.
Ketiga, pindah tempat ketika ngantuk
Seperti yang disarankan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis yang telah kita bahas sebelumnya, “Apabila kalian ngantuk pada hari Jumat, maka berpindahlah dari tempat duduknya.”
Sikap semacam ini, mungkin masih dianggap tabu oleh masyarakat kita. Karena itu, butuh keberanian mental untuk memulainya. Sebagai bentuk perjuangan anda melawan ngantuk.
Keempat, bangunkan orang yang ngantuk di samping Anda.
Ini sebagai bentuk kepedulian anda kepada sesama. Namun ini harus dilakukan tanpa suara. Artinya, anda bangunkan hanya dengan gerakan tanpa ucapan.
Imam Ibnu Baz pernah ditanya tentang hukum membangunkan orang yang tidur ketika mendengarkan khutbah. Belaiu menjelaskan,
يستحب إيقاظهم بالفعل لا بالكلام، لأن الكلام في وقت الخطبة لا يجوز؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم:(إذا قلت لصاحبك أنصت يوم الجمعة والإمام يخطب فقد لغوت) متفق على صحته..
Dianjurkan untuk membangunkan mereka dengan gerakan, tanpa ucapan. Karena berbicara ketika berkhutbah tidak dibolehkan. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apabila kamu berbicara kepada sampingmu “Diam”, pada hari Jumat dan imam sedang berkhutbah, berarti kamu telah berbuat sia-sia…” (Muttafaq ‘alaihi). [www.binbaz.org]
Diantara dalil yang menunjukkan bolehnya mengingatkan dengan gerakan tanpa suara adalah sikap Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, seperti yang diceritakan oleh Nafi,
أن عبد الله بن عمر رأى رجلين يتحدثان والإمام يخطب يوم الجمعة فحصبهما، أن اصمتا
Bahwa Abdullah bin Umar pernah melihat dua orang saling ngobrol ketika imam sedang berkhutbah di hari Jumat. Kemudian beliau melempar keduanya dengan kerikil agar mereka diam. (HR. Malik dalam al-Muwatha, 346).
Ibnu Abdil Bar rahimahullah mengatakan,
ففيه تعليم كيف الإنكار لذلك؟ لأنه لا يجوز أن ينكر عليهما الكلامَ بالكلام في وقتٍ لا يجوز فيه الكلام
“Keterangan ini memberi pelajaran bagaimana cara mengingkari orang yang ngobrol dengan benar. Karena tidak boleh mengingkari obrolan keduanya dengan ucapan, di waktu tidak boleh berbicara.” (al-Istidzkar, 2:23)
Kelima, nasehat untuk khatib
Kepada para imam, para khatib, anda perlu menyadari bahwa jamaah sulit untuk diajak konsentrasi mendengarkan khutbah lebih dari 20 menit. Artinya, sebagian besar apa yang anda sampaikan, tidak mereka respon dengan baik. Padahal anda telah siapkan konsep, anda telah teriak-teriak, dan dst. Namun sayang, khutbah anda ditinggal tidur.
Karena itu, miliki prinsip, khutbahku pendek, khutbahku isinya sesuatu yang penting dan ada tamabahan ilmu baru yang bermanfaat bagi jamaah, dan hindari terlalu panjang yang membosankan.
Seperti inilah yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Khutbah beliau ringkas, dan shalatnya lebih panjang.
Dari jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,
كان رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لا يطيل الموعظة يوم الجمعة، إِنما هنّ كلمات يسيرات
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memperlama khutbahnya di hari Jumat. Apa yang beliau sampaikan hanya nasehat ringkas. (HR. Abu Daud dan dishahihkan al-Albani).
Dengan khutbah yang isinya menarik, meskipun ringkas, akan meringankan jamaah dan membuat khutbah anda tidak ditinggal tidur.
Allahu a’lam
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)
🌴🍋 ADAB ILMU 🍋🌴
___________🌾🌾🌾___________
Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim Al-Harrany -rahimahullah- mengatakan:
"من أراد أن ينقل مقالة طائفة فليسم القائل والناقل ، وإلا فكل أحد يقدر على الكذب"
Siapa saja yang ingin mengutip ucapan kelompok tertentu hendaklah dia menyebutkan nama pemilik ucapan dan penukilnya. Jika tidak, maka setiap orang sanggup untuk berdusta.
(Al-Minhaj 2/413)
Catatan:
Hal ini perlu untuk kita perhatikan, agar tidak ada yang terdzolimi oleh vonis ini dan itu disebabkan informasi yang tidak jelas asal usulnya. Timbangan ini berlaku bagi kawan maupun lawan.
Allah azza wa jalla berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُواْ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلۡقِسۡطِۖ وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنََٔانُ قَوۡمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعۡدِلُواْۚ ٱعۡدِلُواْ هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS: Al-Maidah: 8)
Wallahu ta'ala a'lam
🜒Ditulis oleh Ust. Aan Chandra Thalib El Gharantaly حفظه الله تعالى.
***
💡Apa Salah Saya dan Dosa Saya Hingga Begini Aku di Uji❓
Sahabat fillah pernakah kita mendengar ungkapan di atas ataukah kita juga pernah terbetik dalam hati kita ungkapan itu❓
Sahabat fillah mulai sekarang berhentilah berkeluh kesah seperti itu ketika Allah timpakan mushibah atas kita,karena ternyata di balik mushibah itu ada fadhilah yang sangat besar jika kita mengetahui.
💡Di antara fadhilah itu adalah:
☝🏻Allah akan menghapus segala kesalahan kita.
▪Rasulullah ﷺ bersabda:
👈🏻ما يُصيبُ المُسلِمَ، مِن نَصَبٍ ولا وَصَبٍ، ولا هَمٍّ ولا حُزْنٍ ولا أذًى ولا غَمٍّ، حتى الشَّوْكَةِ يُشاكُها، إلا كَفَّرَ اللهُ بِها مِن خَطاياهُ
[Tidaklah seorang muslim tertimpa berupa suatu kepayahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya.]
📚 صحيح البخاري - رقم: (5641)
قوله " من نصب " أي من تعب .
🔎Perkata'an beliau ﷺ "Nashabin:adalah orang yang payah
قوله " ولا وصب " وهو المرض .
Dan perkata'annya"Washabin adalah penyakit.
️
Dan Rasulullah ﷺ juga bersabda
ما يزالُ البلاءُ بالمؤمنِ والمؤمنةِ في نفسه وولدِه ومالِه حتى يَلقى اللهَ تعالى وما عليه خطيئةٌ
[Senantiasa seorang mu'min dan mu'minah akan di timpa bencana pada dirinya, harta dan anaknya sampai dia berjumpa Allah تعالى dan tidak ada atasnya satu kesalahan pun]
📚حسنه وصححه الألباني في
صحيح الترغيب - رقم: (3414)
صحيح الترمذي - رقم: (2399)
Pada dirinya dan hartanya di uji berupa sakit yang tak kunjung sembuh yang menghabiskan hartanya,pada anaknya di uji dengan sakit dan kematian dan yang semisal dari berbagai hal yang menyakitkan jiwa.
☝🏻Dan tersenyumlah engkau karena tidaklah Allah menguji kamu melainkan Allah mencintai mu,Allah ingin mengangkat derajatmu,semakin berat ujianmu menimpamu maka semakin besar pahala dan balasan yang kamu akan terima dan agar kamu termasuk orang-orang yang beruntung dan Allah akan masukkan kamu ke surgaNya yang luasnya seluas langit dan bumi ketika kamu bersabar.🌺
☝🏻Allah تعالى berfirman:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَاب
“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar itu akan dipenuhi pahala mereka dengan tiada hitungannya.
”[Az Zumar: 10]
Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini menceritakan ketawadhu'an gurunya, Syaikh Al Albani.
"Tiap aku berjumpa dengan beliau, aku ingin mencium tangannya tapi beliau menolak. Dan sering seperti itu, aku pun bertanya:
"Kami belajar darimu di pembahasan hadits dalam Ash Shahihah bahwa seseorang boleh mencium tangan seorang ulama"
"Apakah engkau pernah melihat ulama?", tanya beliau.
"Ada di depan mataku", jawabku.
Maka beliau mengatakan, "Aku hanyalah seorang penuntut ilmu kecil. Orang semisal aku dan dirimu itu seperti yang disebutkan dalam pepatah "Burung kecil di tanah ini telah menjadi seekor elang" ...
Dari kitab Juhud Asy Syaikh Al Albani fid Da'wah Ilallah, hal 27
Ketika Idhul adha bisa dibilang “daging berlimpah”, dengan kemajuan teknologi informasi menyebar informasi agar hati-hati makan daging (terutama daging kambing) karena bisa menimbulkan penyakit atau membuat beberapa penyakit kambuh dan tambah parah. Benarkah hal ini?
Kambing adalah hewan yang ada keberkahan padanya
Ada banyak nash yang menyebutkan bahwa kambing memiliki keutamaan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اتخذوا الغنم فإن فيها بركة
” Peliharalah (manfaatkan) oleh kalian kambing karena di dalamnya terdapat barakah. “[1]
Dalam daging kambing terdapat berkah, begitu juga pada susu dan kulitnya
Ahli tafsir Al-Qurthubi rahimahullahberkata,
وجعل البركة في الغنم لما فيها من اللباس والطعام والشراب وكثرة الأولاد، فإنها تلد في العام ثلاث مرات إلى ما يتبعها من السكينة، وتحمل صاحبها عليه من خفض الجناح ولين الجانب
“Allah telah menjadikan berkah pada kambing di mana kambing bisa dimanfaatkan untuk pakaian, makanan, minuman, banyaknya anak ,karena kambing beranak tiga kali dalam setahun, sehingga memberikan ketenangan bagi pemiliknya. Kambing juga membuat pemiliknya rendah hati dan lembut terhadap orang lain”[2]
Bahkan setiap Nabi pernah mengembalakan kambing, ulama menjelaskan hikmhanya karena memang megembalakan kambing membutuhkan kesabaran dan ketekunan yang akan membentuk karakter baik seseorang
Nabi Shallallahu’alaihi wasallambersabda,
ما بعث اللهُ نبيًّا إلا رعى الغنمَ . فقال أصحابُه : وأنت ؟ فقال : نعم ، كنتُ أرعاها على قراريطَ لأهلِ مكةَ
“tidaklah seorang Nabi diutus melainkan ia menggembala kambing“. para sahabat bertanya, “apakah engkau juga?”. Beliau menjawab, “iya, dahulu aku menggembala kambing penduduk Mekkah dengan upah beberapa qirath”[3]
Daging kambing tidak berbahaya bagi kesehatan
Jelaslah bahwa kambing terdapat berkah dan membawa kebaikan karenanya tidak mungkin daging kambing berbahaya. Apa yang disyariatkan oleh Islam pasti bermanfaat dan tidak berbahaya
syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata dalam risalahnya,
الدين مبني على المصالح في جلبها و الدرء للقبائح
“Agama dibangun atas dasar berbagai kemashlahatan
Mendatangkan mashlahat dan menolak berbagai keburukan”
Kemudian beliau menjelaskan,
ما أمر الله بشيئ, إلا فيه من المصالح ما لا يحيط به الوصف
“Tidaklah Allah memerintahkan sesuatu kecuali padanya terdapat berbagai mashlahat yang tidak bisa diketahui secara menyeluruh”[4]
Hal ini sudah dibuktikan oleh orang di zaman dahulu mereka suka memakan daging termasuk daging kambing, bahkan mereka memakan lemaknya juga. Dikisahkan orang dahulu suka mengambil lemak hewan, kemudian dipotong dadu dan dikeringkan dengan cara dijemur. Disimpan atau dibawa bersafar, kemudian jika ingin dimakan tinggal “dipanaskan” atau dioles diatas roti kemudian di makan.
Orang yahudi dihukum agar tidak bisa memakan daging dan lemak karena mereka banyak melakukan kesalahan. Artinya lemak tersebut dimanfaatkan oleh mereka sebelumnya.
Allah berfirman,
وَعَلَى الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا كُلَّ ذِي ظُفُرٍ ۖ وَمِنَ الْبَقَرِ وَالْغَنَمِ حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ شُحُومَهُمَا إِلَّا مَا حَمَلَتْ ظُهُورُهُمَا أَوِ الْحَوَايَا أَوْ مَا اخْتَلَطَ بِعَظْمٍ
” Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala binatang yang berkuku dan dari sapi dan domba, Kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, selain lemak yang melekat di punggung keduanya atau yang di perut besar dan usus atau yang bercampur dengan tulang” (Al-An’am : 146)
Mengapa banyak yang bilang daging kambing berbahaya sekarang?
Banyak yang bilang atau memang fakta terjadi pada beberapa orang bahwa tensinya naik setelah makan daging kambing atau kolesterolnya naik.
Mungkin berikut ini bisa menjadi jawabannya:
1.Cara pengolahan daging yang tidak sehat, misalnya memakai bumbu dan minyak yang berlebihan, terlalu lama diolah sehingga vitamin dan kandungan mineralnya hilang
2.Terlalu berlebihan mengkonsumsi daging saat “pesta daging” dan wajar saja, apa-apa yang berlebihan pasti akan menjadi racun
Dalam kedokteran barat modern dikenal ungkapan,
“ All substances are poison. There is none that is not poison, the right dose and indication deferentiate a poison and a remedy”
“semua zat adalah [berpotensi menjadi] racun. Tidak ada yang tidak[berpotensi menjadi] racun. Dosis dan indikasi yang tepat membedakannya apakah ia racun atau obat”
[toksikologi hal. 4, Bag Farmakologi dan Toksikologi UGM, 2006]
3.Pola hidup di zaman sekarang yang tidak sehat, makanan tidak sehat dan gerakan yang kurang. Sehingga ada akumulasi sedikit saja kolesterol atau zat lainnya maka sudah berbahaya
Daging kambing juga memilki manfaat yang banyak
Ternyata banyak juga penelitian yang menyatakan daging kambing memiliki banyak manfaat bagi kesehatan.
1.Ada penelitian bahwa daging kambing baik untuk kesehatan jantung
2.Daging kambing kandungan lemaknya paling rendah dibanding hewan yang lain dan dikatakan bisa menurunkan berat badan
3.Mencegah anemia karena kandunganya vitaminnya
4.Empedunya bisa mengobati malaria
5.Susu kambing sangat bermanfaat dan bergizi
6.Dan lain-lainnya
Solusinya adalah kita berusaha menjaga pola hidup sehat dan tidak berlebihan juga mengkonsumsi daging kambing serta berusaha menanamkan dan menyebarkan kepada kaum muslimin bahwa pada kambing ada berkah dan menghilangkan pemikiran daging kambing berbahaya bagi kesehatan secara total.
Demikian semoga bermanfaat
[1] HR. Ahmad, dishahihkan oleh syaikh Al-Albani dalam As-silsislah As-shahihah 2/417
[2] Al-jami’ liAhkaamil-Qur’an 10/80, Darul Kutub Al-Mishriyah, Koiro, 1384 H, syamilah
[3] HR. Al Bukhari, no. 2262
[4] Risaalah fiil Qowaaidil fiqhiyahhal. 41, Maktabah Adwa’us salaf
https://muslimafiyah.com/daging-kambing-berkah-tidak-berbahaya-bagi-kesehatan-syariat-dan-medis.html
. 💕APA BEDANYA SHÅLIH (ORANG YANG SALEH) DENGAN MUSHLIH (ORANG YANG MELAKUKAN PERBAIKAN) ❔
🌾Orang yang shålih, maka Kebaikannya adalah untuk dirinya sendiri.
🌺 Sedangkan orang yang mushlih, kebaikannya adalah untuk dirinya sendiri dan orang lain.
🌾 Orang yang shålih itu dicintai manusia
🌺 Sedangkan orang yang mushlih itu dibenci manusia
‼Kenapa bisa demikian??
❤Karena kekasih kita al-Musthofå (Shallallâhu 'alaihi wa Salam) sebelum beliau diutus sebagai rasul, beliau adalah orang yang paling dicintai kaumnya lantaran beliau adalah orang yang shålih.
💔 Akan tetapi setelah beliau diutus Allah Ta'ålå sebagai rasul, maka beliau menjadi mushlih sehingga beliau pun dimusuhi dan dikata²i sebagai seorang penyihir yang pendusta lagi gila❗
⁉ Apa sebabnya?
Karena orang yang mushlih itu melawan betapa kerasnya hawa nafsu orang yang menginginkan melakukan perbaikan (ishlah) dari kerusakan² mereka.
💬 Karena itulah Luqmån mewasiatkan putera beliau untuk bersabar ketika beliau mendorongnya untuk melakukan perbaikan (ishlah), karena niscaya ia akan menghadapi permusuhan.
📖 "Wahai anakku, tegakkan sholat, perintahkan kebajikan dan cegahlah kemungkaran serta bersabarlah atas musibah yang menimpamu."
💡Ulama Yang mulia pernah berkata :
Satu orang mushlih itu lebih dicintai Allah daripada seribu orang yang shålih.
⭕Karena orang yang mushlih itu Allah jadikan untuk melindungi umat, sedangkan orang yang shålih cukup sekedar melindungi dirinya sendiri.
📖 Allah Azza wa Jalla berfirman di dalam Kitab-Nya yang mulia :
"Dan Rabb-mu tidak akan sekali-kali membinasakan negeri-negeri secara zhalim, sedangkan penduduknya orang-orang yang mushlih (berbuat ishlah). "
❗(Dalam ayat di atas) Allah tidak menyebutkan orang-orang yang Shâlih.
🌱Jadilah orang² yang mushlih, dan jangan cukup menjadi orang² yang shålih saja ‼
✏@abinyasalma
#⃣ Channel Ilmu & Dakwah al-Wasathiyah wal I'tidål
ℹ Join : https://bit.ly/abusalma
DAMPAK BURUK MENJAUH DARI MAJELIS ILMU
Menjauh dari majelis ilmu dan pertemuan dengan para ikhwah serta menjauh dari kunjungan-kunjungan da’wah dapat mengeraskan hati.
Al Hasan al Bashri berkata: “Sahabat-sahabat kami lebih mahal daripada keluarga kami. Keluarga kami mengingatkan kami kepada dunia sedangkan sahabat-sahabat kami mengingatkan kami kepada akherat.
Usahakan selalu hadir di majelis ilmu atau minimal dua majelis ilmu dalam sepekan di masjid. Jika anda beranggapan mendengar kaset (atau radio –red) saja sudah cukup maka anda keliru. Sesungguhnya anda butuh hadir di masjid. Ketika anda duduk di majelis ilmu dalam masjid, para malaikat akan mengelilingimu, sakinah (ketenangan) akan menaungimu, rahmat akan turun kepadamu dan Allah akan memujimu di hadapan para malaikatNya...
Demi Allah, ini sesuatu yang lain dari yang lain.
Oleh karena itu engkau dapati kebanyakan orang-orang yang tergelincir adalah orang-orang yang melalaikan majelis ilmu.
Rutinlah hadir di majelis ilmu, jagalah dan ikutilah jadwal-jadwalnya setiap pekan niscaya engkau memperoleh semangat keimanan yang baru. Jika di sana terdapat kekurangan maka akan segera membaik atau bila terdapat retak pasti tertutupi insya Allah.
Rahasianya, ketika engkau hadir di majelis-majelis ilmu, keimananmu akan meningkat. Kami dahulu selalu menyertai para masyaaikh di awal iltizam, lalu salah seorang sahabat kami absen. Syaikh bertanya tentangnya, mereka berkata: “Ia sedang asyik membaca sebuah kitab sehingga tidak bisa datang .” Syaikh berkta: “Kabarkan kepadanya bahwa pertemuanmu dengan sahabat-sahabatmu akan menambah keimanan dalam hatimu lebih banyak daripada engkau membaca kitab seorang diri.”
Memang benar, hadir di majelis-majelis ilmu untuk mencari berkah, barangkali ada salah seorang hadirin yang mustajab doanya. Apabila ia mengaminkan doa syaikh niscaya akan dikabulkan doa dan Allah akan merahmati seluruh hadirin. Dengan begitu engkau akan memperoleh kemenangan yang besar. Dalam hadits disebutkan:
هُمُ الْقَوْمُ لاَ يَشْقَى بِهِمْ جَلِيْسُهُمْ
“Mereka adalah satu kaum yang tidak akan rugi orang-orang yang bermajelis dengan mereka.” (Muttafaq ‘alihi)
Oleh karena itu seorang sahabat nabi berkata kepada temannya, “Bergabunglah bersama kami, kita meningkatkan iman sesaat.”
Kemudian apa yang engkau kerjakan apabila engkau tidak hadir?
Kesibukan-kesibukan dunia, ambisi-ambisi rendahan, bisikan-bisikan setan! Masjid adalah rumah bagi setiap orang yang bertaqwa, masjidlah tempat kembali kaum mu’minin.
Kembalilah ke masjid, hadirilah halaqah ilmu.
Berlindunglah kepada Allah niscaya Allah akan melindungimu. Janganlah berpaling, karena Allah akan berpaling darimu.
Dari terjemahan Min Asbaab Al-Futur wa 'Ilaajuhu karya Muhammad Husain Ya'qub Pustaka At-Tibyan Solo diterjemahkan oleh Ustadz Abu Ihsan Al Atsari, M.A
Ternyata salah satu penyebab orang dimasukan ke neraka adalah sebab amalan yg banyak dan beragam tapi penuh cacat; baik motif dan niatnya, maupun kaifiyat yg tidak sesuai dengan sunnah Rasul saw.
AstaghfiruLlahal'adzhim…
Alkisah, 'Umar bin Khathab menangis saat mendengar ayat ini.
Alkisah juga, suatu hari Atha As-Salami, seorang Tabi`in bermaksud menjual kain yg telah ditenunnya kepada penjual kain di pasar. Setelah diamati dan diteliti secara
seksama oleh sang penjual kain, sang penjual kain mengatakan, "Ya, Atha sesungguhnya kain yg kau tenun ini cukup bagus, tetapi sayang ada cacatnya sehingga saya tidak dapat membelinya."
Begitu mendengar bahwa kain yg telah ditenunnya ada cacat, Atha termenung lalu menangis.
Melihat Atha menangis, sang penjual kain berkata, "Atha sahabatku, aku mengatakan dg sebenarnya bahwa memang kainmu ada cacatnya sehingga aku tidak dapat membelinya, kalaulah karena sebab itu engkau menangis, maka biarkanlah aku tetap membeli kainmu dan membayarnya dg harga yg pas."
Tawaran itu dijawabnya, "Wahai sahabatku,engkau menyangka aku menangis disebabkan karena kainku ada cacatnya? ketahuilah sesungguhnya yg menyebabkan aku menangis bukan karena kain itu. Aku menangis disebabkan karena aku menyangka bahwa kain yg telah kubuat selama berbulan-bulan ini tidak ada cacatnya, tetapi di mata engkau sbg ahlinya ternyata ada cacatnya.
Begitulah aku menangis kepada Allah dikarenakan aku menyangka bahwa ibadah yg telah aku lakukan selama bertahun- tahun ini tidak ada cacatnya, tetapi mungkin di mata Allah sbg ahli-Nya ada cacatnya, itulah yg menyebabkan aku menangis."
Semoga kita menyadari sedini mungkin tentang amal yg kita lakukan apakah sudah sesuai ataukah tidak.
Hanya dg ilmulah kita akan mengetahui dimana letak kekurangan amal kita.
Maka bukan hanya dg beramal sebanyak-banyaknya tapi juga beramal dg sebenar-benarnya.
Allahu a'alam Bishowab
Kita bisa membaca sejarah bagaimana tabib cendikiawan muslim dahulunya dengan kitab-kitab pedoman kedokteran karangan mereka dan buku-buku mereka bahkan ada yang menjadi pegangan kedokteran barat sampai saat ini. Sebutlah tabib muslim seperti Muhammad bin Zakaria Al-Razi di barat dikenal dengan Razes, ahli bedah Al-Zahrawi dikenal dengan Abulcasis, Ibnu Rusdy atau Averroes, Ibnu El-Nafis, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dan masih banyak yang lainnya.
Kemudian walaupun pengembangan selanjutnya dilakukan oleh ilmuan barat yang notabenenya kafir, maka kita tidak semata-mata langsung berpikiran negatif dan tidak berlaku adil kepada mereka. Jika memang ilmu kedokteran tersebut bermanfaat dan benar maka kita perlu juga mempelajarinya dan bisa menggunakannya. Sebagaimana fasilitas saat ini seperti mobil, kereta, pesawat dan alat-alat elektronik lainnya. Kita tetap harus adil dalam menyikapi hal ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ
أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ.
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adilterhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” [Al-Mumtahah: 8]
🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 07 Jumādal Akhir 1437 H / 16 Maret 2016 M
👤 Ustadz Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi' | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
🔊 Hadits 02| Sifat Pemarah (Bagian 3)
⬇ Download audio:
bit.ly/BiAS01-FA-Bab04-H2-3
~~~~~~~~~~~~~~
SIFAT PEMARAH (BAGIAN 3 DARI 3)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
Ikhwan dam akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla,
Telah disebutkan pada pembahasan yang lalu bahwasannya diantara tips mengahadapi kemarahan kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ
"Jika salah seorang dari kalian sedang marah maka diamlah."
(HR Ahmad)
Telah kita sebutkan juga bahwa banyak terjadi perceraian gara-gara kemarahan.
Kenapa?
Karena tidak bisa mengontrol jiwanya sehingga dia menceraikan istrinya.
Terkadang seseorang sedang emosi langsung dia menjatuhkan talak tiga, dan akibatnya apa?
Hanyalah penyesalan.
Tatkala dia sedang marah, syaitan datang tentunya untuk membuat dia semakin emosi, sehingga dia menjatuhkan talak dengan talak tiga.
Dan banyak yang datang kepada saya dengan menyesal telah menjatuhkan talak tiga karena emosi kepada istrinya.
Seharusnya dia menjatuhkan talak satu saja, tetapi karena emosi langsung menjatuhkan talak tiga.
Dan ingat perkataan sebagian salaf dan hafalkan:
الغضب أوله جنون وآخره ندم
"Bahwasanya kemarahan itu awalnya adalah kegilaan dan kesudahannya adalah penyesalan."
Dan benar, kalau seseorang sedang marah kemudian kita shooting, sikapnya seperti orang gila.
Seseorang yang terpelajar menjadi seperti tidak terpelajar, seseorang yang tadinya bijak seperti tidak bijak.
Kenapa ?
Karena emosi, kayak orang gila. Kemudian ujung-ujungnya penyesalan.
Jarang, hampir tidak ada yang datang kepada saya kemudian mengatakan:
"Ustadz, saya telah menceraikan istri saya. Alhamdulillāh, saya bahagia bisa menceraikan istri saya."
Jarang yang seperti itu, kenapa?
Kebanyakan mereka setelah menceraikan istrinya menyesal telah menjatuhkan cerai.
Kenapa ?
Karena perceraian yang mereka jatuhkan kebanyakan dibangun di atas emosi.
Padahal Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ
"Jika salah seorang dari kalian sedang marah maka jangan berbicara (diam)."
Kemudian, banyak terjadi dari pembicaraan tersebut, ketika salah seorang sedang marah kemudian dia berbicara, pembicaraan ini akhirnya bisa menimbulkan dampak-dampak yang lain seperti terjadinya perkelahian dan pembunuhan.
Awalnya berbicara, karena seseorang tatkala berbicara sedang emosi, pembicaraannya tidak terkontrol dan ngawur sehingga orang di depannya pun tidak bisa terima, akhirnya beranjak pada tingkatan berikutnya akhirnya terjadi pemukulan atau pembunuhan dan yang lainnya. Awalnya gara-gara berbicara.
Oleh karena, tatkala seseorang sedang emosi, jangan dia berbicara. Jangan kita ikut pendapat sebagian orang yang mengatakan:
"Kalau kamu sedang emosi lampiaskanlah emosi tersebut:"
Jangan!!
Justru kalau seorang sedang emosi kemudian dilampiaskan maka api emosi tersebut semakin terbakar dalam jiwanya, semakin parah dan semakin bahaya.
Oleh karenanya, api yang sedang mau menyala kita pendam dengan sikap diam. Kita jauhkan dari sikap tersebut.
Kemudian, Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla,
Diantara tips yang lain yang bisa kita lakukan ketika tatkala sedang marah adalah:
5. Mengingat ayat-ayat dalam Al Qur'an yang memuji orang-orang yang meredam kemarahannya.
Seperti firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla diantara sifat-sifat penghuni surga:
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ
"..yaitu orang-orang yang meredam amarah."
(QS Ali Imran: 134)
Ini ayat yang sangat luar biasa, maka hendaknya seseorang ingat akan ayat ini.
وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ
"...dan apabila mereka marah mereka memberi maaf."
(QS Asy Syūra: 37)
Dalam ayat lainnya juga Allāh Subhānahu wa Ta'āla sebut-sebut orang yang beriman kalau mereka sedang marah maka mereka memaafkan:
وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ
"..orang yang memaafkan orang lain yang bersalah kepada dia."
(QS Ali Imran: 134)
Maka kita ingat ayat seperti ini bahwasanya Allāh berikan surga bagi orang yang meredam amarah, tidak melampiaskan amarahnya.
Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Daud dan Tirmidzi dari Mu'adz bin Anas dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, beliau bersabda:
مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنْ الْحُورِ الْعِينِ مَا شَاءَ
"Barangsiapa yang meredam amarahnya padahal dia mampu untuk melampiaskan, maka Allāh akan panggil dia pada hari kiamat dihadapan khalayak, sampai Allāh membuat dia memilih bidadari mana yang dia sukai."
Perhatikan, dia meredam amarah bukan karena tidak mampu melampiaskan, tapi dia mampu melampiaskannya.
Oleh karenanya, seseorang ingat akan hal ini, ketika dia meredam marah maka Allāh buat dia memilih bidadari yang dia suka di hari kiamat kelak.
Dari sini kita tahu bahwasanya mengontrol diri tatkala sedang marah mendapatkan pahala yang besar dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
والله أعلمُ بالصواب
_____________________________
📦Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
🌐 Website:
http://www.bimbinganislam.com
👥 Facebook Page:
Fb.com/TausiyahBimbinganIslam
📣 Telegram Channel:
http://goo.gl/4n0rNp
📺 TV Channel:
http://BimbinganIslam.tv
💧Yaa Akhii, Jaga Ukhuwah di Atas Tauhid & Sunnah
✔️Guru kami, Syekh Robi’ bin Hadi Al Madkholi, hafizhahullah, berkata:
"Sekarang ini fitnah (ujian) banyak, ucapan banyak, qila wa qola (ucapan yang tidak jelas sumbernya, katanya dan katanya) banyak, dan semua itu termasuk perkara-perkara yang mengeraskan hati. Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk beriman secara jujur dan beramal saleh.
Dan saya wasiatkan kepada kalian -wahai ikhwah yang saya cintai- agar kalian saling menjalin persaudaraan diantara kalian, dan hendaknya kalian menjauhi sebab-sebab perpecahan dan perselisihan.
Kalian jangan mengobarkan masalah yang akan menyeret kepada perselisihan. Dan juga jangan sampai setan menyeretmu kepada perselisihan dan pertikaian semata-mata karena saudaramu melakukan kesalahan.
Belajarlah untuk bersabar dan belajarlah untuk bersikap hikmah. Kalian sekarang di waktu ini sangat membutuhkan sikap tidak tergesa-gesa, sabar, hikmah, dan kelembutan.
Kita tidak mengatakan: “Diam dan basa-basilah!” Tetapi nasehati, bersabarlah, dan jangan tergesa-gesa, karena mengharapkan wajah Allah Tabaraka wa Ta’ala. Demi Allah, urusan kalian -wahai anak-anakku- akan menjadi lurus, kalian akan saling menyayangi dan merasa saling bersaudara diantara kalian.
Saya wasiatkan kepada kalian -wahai ikhwah sekalian- agar kalian bertakwa kepada Allah dan merasa diawasi oleh Allah, saling menjalin persaudaraan, saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, dan menjauhi sebab-sebab yang akan menimbulkan fitnah dan sebab-sebab yang akan menimbulkan perselisihan."
📚Adz-Dzari’ah Ila Bayani Maqashid Kitab Asy-Syari’ah, 2/576.
📡http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=145872
📝Ust. I. Syuhada al iskandar
📂DISC
Dakwah Islam Sunnah Channel :
# Istighfar #
@almohisni
Istighfar adalah sebuah kenyamanan yang tak bisa ditandingi. Istighfar adalah sebab yang paling kuat untuk mendapatkan kebahagiaan dan sebuah harta yang sangat berharga di dunia.
“Mohon ampunlah kepada Rabb kalian, kemudian bertaubatlah kepadaNya, dia kan memberikan kepadamu kenikmatan yang terus menerus” (Hud: 3)
Syaikh Muhammad bin Sulaiman al Muhaisini, Imam Masjid al Rajhi, Mekkah. Situs beliau almohisni.com 088
Twit Ulama | twitulama.com | twitter, telegram & instagram: @twitulama
TADABBUR
"Hari ini, biarlah mereka menertawakan keistiqomahanmu.
Karena suatu saat keadaan akan berbalik.
Allah azza wa jalla berfirman:
فَالْيَوْمَ الَّذِينَ آمَنُواْ مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ
"Maka pada hari ini (kiamat), orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir,"
(QS: Al-Muthaffifin ayat: 34)"
_____________
Gorontalo 05-06-1437 H
ACT El-Gharantaly
# Beberapa Kesalahan Yang Sering Dilakukan Mereka yang Baru “Ngaji”/Belajar Agama
Kami sempat melakukanya di awal-awal kami mengenal dakhwah ahlus sunnah wal jama’ah karena kebodohan kami akan ilmu.
Kami ingin membagainya supaya yang bisa mengambil pelajaran dan mengingatkan mereka yang telah lama mengenal anugrah dakwah ahlus sunnah khususnya kami pribadi.
Beberapa hal tersebut ada sepuluh berdasar pengalaman kami:
1. Merasa lebih tinggi derajat dan akan terbebas dari dosa karena sudah merasa mengenal Islam yang benar.
2. Terlalu semangat menuntut ilmu agama sampai lupa kewajiban yang lain.
3. Kaku dalam menerapkan ilmu agama padahal Islam adalah agama yang mudah.
4. Keras dan kaku dalam berdakwah.
5. Suka berdebat dan mau menang sendiri bahkan menggunakan kata-kata yang kasar.
6. Menganggap orang di luar dakwah ahlus sunnah sebagai saingan bahkan musuh.
7. Berlebihan membicarakan kelompok tertentu dan ustadz/ tokoh agama tertentu.
8. Tidak serius belajar bahasa arab.
9. Tidak segera mencari lingkungan dan teman yang baik.
10. Hilang dari pengajian dan kumpulan orang-orang yang shalih serta tenggelam dengan kesibukan dunia.
PENJELASAN LANJUTAN SILAHKAN BACA:
https://muslimafiyah.com/beberapa-kesalahan-yang-sering-dilakukan-ikhwan-akhwat-baru-ngaji.html
dampak dari beberapa kesalahan tersebut adalah:
1. Merasakan kesempitan hidup setelah mengenal dakwah ahlus sunnah
2. Dakwah tidak diterima oleh orang lain
3. Merusak nama dakwah salafiyah ahlus sunnah dan memberi kesan negatif
4. Memecah belah persatuan umat Islam
Kemudian marilah kita banyak-banyak berdoa agar diberi istiqomah beragama yang merupakan anugrah terbesar.
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik” artinya: ‘Wahai Zat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu’ (HR. Tirmidzi, shahih)
Penyusun: Raehanul Bahraen
Add Pاn BB muslimafiyah.com 5CDB322B
Telegram (klik): bit.ly/muslimafiyah
#Mengapa Saya Salut Kepada Wahabi (copas)
#
Pertamakali saya tahu kajian-kajian salafi (wahabi–red) itu sekitar 2006. Pas kuliah di Jogja. Sebelum itu saya fanatik dengan agama lokal dari kampung halaman di Situbondo. Jadi, pas awal pindah ke Jogja dan tinggal di rumah nenek, saya nggak mau jumatan di mesjid dekat rumah, sebab adzannya 1x, nggak kayak di kampung halaman, adzan 2x, khotibnya pegang tombak, dan sebelum khotbah biasanya ada salah 1 jamaah yang berdiri terus bilang “Yaa ma’syarol muslimin…” dst..
Ketika tahu mesjid dekat rumah nggak seperti itu, saya nggak mau jumatan di situ, memilih jalan jauh ke mesjid kampus UGM, padahal ya sama saja adzannya juga 1x, tapi saya sudah terlanjur “alergi” dengan orang-orang di mesjid deket rumah itu, mereka pakai celana cingkrang, jenggotan. Hih. Ogah, mending ke mesjid kampus UGM yang jamaahnya lebih umum, masih ada yang pake celana jin.
Waktu itu saya tahunya mereka yang cingkrang itu Muhammadiyah… Dan menurut ajaran dari kampung, Muhammadiyah itu nggak tahlilan, sementara kita NU tahlilan. Gitu aja definisinya, tanpa ada niat nyari tahu kok bisa beda? Kan pasti ada alasannya? Lalu yang lebih mendekati kebenaran yg mana? Nggak ada pikiran semacam itu. Pokoknya kalau sudah lahir di keluarga NU ya sudah ikut saja. Apalagi sejak kecil sudah dibangun sentimentalisme kefanatikan seolah Muhammadiyah itu aneh.
Ke-alergian terhadap orang-orang di mesjid dekat rumah itu berlangsung sekitar 2 tahun. Sampe suatu masa, di Jogja lagi rame kasus mahasiswa yang tiba-tiba direkrut oleh semacam gerakan baiat gitu, sehingga tiba-tiba nggak mau ngobrol sama orangtuanya karena orangtua dianggap kafir (naudzubillah).
Pokoknya entah aliran apa namanya, NII apa ya? Wuih itu ngeri. Teman sekelas saya, cewek, ada yang kena gerakan itu. Bahwa Indonesia bukan negara islam, kita harus bikin negara islam, bla bla bla… Saya lalu berhati-hati. Kalau kebetulan ke kampus MIPA selatan, di seberang kampus ada masjid Al Hasanah, di mesjid itu perempuannya pakai cadar hitam-hitam, saya sering bilang, “Itu pasti yang aliran sesat.”
Di periode itu, model ikhwan-akhwat dalam sebuah wadah bernama liqo’ juga mulai menjamur di kampus. Ada seorang sahabat yang keren digandrungi akhwat-akhwat, dia kalo lagi nggak ada jam kuliah nongkrongnya di musholla, ngobrol sama akhwat di balik hijab. Saya iri, kan kepingin juga didekatin cewek-cewek.
Apalagi waktu itu ada akhwat yang cantik sekali, yang membuat saya tahu diri, siapalah saya ini, jenggot tipis aja nggak punya, nggak ada potongan seorang ikhwan…. Namun demi mendapat perhatian, itu jadi semacam titik tolak untuk berniat belajar agama (nggak ikhlas banget niatnya…) Saya segera rajin lihat papan pengumuman yang terpajang di musholla. Lihat ada poster acara apa yang berhubungan dengan agama. Nyari yang gratisan.
Maka, acara agama yang pertama saya datangi itu acaranya Hizbut Tahrir, dalam keadaan saya awam tentang kelompok ini, yang penting kan datang aja biar keren dan kelihatan alim dapat sertifikat. Waktu itu acaranya di Aula Fakultas Pertanian. Jadi bukan mesjid, melainkan kayak seminar, duduk di bangku-bangku kuliah, ada meja-meja melingkar dibikin kelompok, lalu ada layar proyektor, slide, gitu-gitu, endingnya pesertanya dapat CD. Saya gak paham apa yang disampaikan, tiba-tiba disuruh diskusi, ada makan siang, yang penting datang aja biar keren.
Esoknya di kampus, saya tunjukkan CD dan sertifikat ke sahabat saya yang digandrungi akhwat itu, pamer: nih saya juga tahu datang seminar islam… Dia malah kaget, “Lho, kamu datang ke acaranya HTI?” Mendengar pertanyaan itu, saya balik kaget, “Lho kenapa ya emangnya?”
Sejak itu, saya tahu kalau ada banyak kelompok-kelompok kaum muslimin, saya kira cuma Muhammadiyah dan NU. Ternyata ada HTI, ada Ikhwanul Muslimin (IM), NII, LDII, MTA.. Nah yang liqo’ ini ujungnya saya tahu afiliasi mereka ke IM.
Saya mulai mempelajari masing-masing perbedaan antar kelompok, mengenal tokoh-tokoh mereka. Jadi tahu oh ternyata HTI itu tujuannya gini, cirinya gini, IM itu gini, cirinya gini. Saya kadang datang ke obrolannya anak IM, kadang ngobrol dengan anak HTI, pokoknya yang obrolannya agama, ikut nimbrung….
Namun saya mesti berpikir rasional, bahwa pasti ada alasan kenapa kelompok ini begini, kelompok itu begitu, mesti diuji materi, sehingga bisa ketahuan mana yang setidaknya paling bisa saya percaya. Bukan lantas tidak mau repot-repot, ya sudahlah mereka bisa benar, kita bisa benar, yang tahu kebenaran hanya Allah. Wis, lalu jadilah paling toleran, simsalabim, islam nusantara… Nggak gitu, kalo gitu sih nggak perlu ada dakwah saja, nggak perlu diutus Nabi dan Rasul, nggak perlu diturunkan AlQur’an, biar aja setiap manusia percaya dengan keyakinan sendiri-sendiri…
Dalam dunia eksak, selama segala hal yang berbeda bisa dicari pemecahannya, mana yang lebih valid, maka dicari. Bahkan kalo bisa yang berbeda-beda itu diajak bersatu. Sehingga logikanya, bersatu di atas landasan yang kokoh. Bukan sengaja berbeda lalu pura2 bersatu saling toleransi padahal saling sikut. “Kau sangka mereka bersatu padahal hati mereka berpecah belah,” kata ayat dalam Al Qur’an.
Sekarang kan apa-apa ditoleransi, ada kelompok yang penentuan Idul Fitrinya berdasarkan pasang surut air laut, ditoleransi, ada orang ngaku jadi Nabi, ditoleransi, besok ada yang sholat dhuhur 8 rokaat pun pasti ditoleransi. Lha ya udah rusak dakwah ini, tiap mau bilang, “eh ini nggak boleh,” dibales, “kamu merasa bener sendiri, menyesat-nyesatkan orang. Mau memonopoli surga.” Ya sudaaah repot.
Karena itulah pengusung paham buram: saya bisa benar, kamu bisa benar, semua bisa benar, toleran, liberal, itu biasanya datang dari mereka yang kuliah di fakultas non-eksak. Filsafat terutama. Karena sudah dibiasakan berpikir seperti itu. Selama masih bisa ngeles ya ngeles terus. Bermain-main opini saja. Mana yang kelihatan paling keren opininya, paling satir, ya wis, itu yang juara! Nggak urus itu ngawur apa nggak.
Balik ke cerita. Setidaknya satu sisi positif dari hasil bergaul dengan teman-teman HTI dan IM adalah, saya mulai tidak alergi dengan penampilan celana cingkrang dan jenggot. Sebab sebagian teman ada yang begitu. meski saya belum tahu alasannya. Mungkin tren.
Nah, kemudian muncullah sebuah pertanyaan besar: Lalu, kalau orang-orang yang di mesjid dekat rumah, yang cingkrang, jenggotan, itu aliran apa ya?
Mulai deh. Sehabis maghrib biasanya kan ada kajian. Sesekali saya coba duduk di teras mesjid, dengerin yang diomongin si ustadz… Oh, ternyata ustadz itu bicaranya tentang tauhid, syirik, sunnah, bid’ah… Kok kayaknya menarik? Belum pernah nih di kampung ada ceramah kayak gini.
Kemudian lain waktu saya mulai masuk deh ikut kajian itu biarpun nggak ada sertifikat. Sehabis maghrib, malam selasa dan malam sabtu. Asli, saya jatuh cinta. Cara ustadznya menjelaskan, terus banyak hal baru yang saya ketahui dan bikin, “Oh, gitu ya? Oh ternyata gitu?”
Berbeda dengan seminar yang kebanyakan seperti bertele-tele, ustadz di mesjid ini langsung ke poinnya. Dan setelah beberapa kali saya ikuti, ternyata bisa disimpulkan tujuan dakwahnya mereka ini sederhana banget: cuma gimana biar bisa ibadah dengan bener, tahu landasannya, bukan ikut-ikutan. Gimana biar kita terasa hidup dekat dengan Nabi dan para sahabat. Udah. Gitu. Simpel banget. Terlalu simpel malahan.
Nggak ada tujuan bikin negara islam, bikin gerakan rekrut orang, bai’at, kartu anggota, tur ziarah.. Nggak ada. Cuma diajarkan, udah meng-Esa-kan (mentauhidkan) Allah dengan bener belum? ibadah kita selama ini udah sesuai dengan tuntunan Rasulullah belum? Wis, tok, til, itu aja.
Mereka tidak punya penamaan seperti IM atau HTI, sebab konon memang nggak punya nama, cuma berdakwah mengajak pada islam yang murni dan lurus.
Adapun kemudian saya dengar dari orang-orang, bahwa mereka dinamakan wahabi… Ketika saya baca artikel tentang wahabi, itu wuh sadis banget! Konspirasi dengan Inggris, temennya Mamarika, menghancurkan makam Nabi, radikal, ngajarin pegang senjata. Apalagi kalau levelnya sudah utak-atik sejarah, ada buku judulnya Sejarah Berdarah Sekte Wahabi. Kok sangar temen? Padahal realitas yang saya datangi sendiri, nggak ada itu.
Maka terjadi pergolakan besar dalam diri saya. Dimasuki banyak hal-hal yang terasa baru. Wahabi ternyata tidak merayakan maulid, alasannya: soalnya Rasul tidak merayakannya. Simpel banget! Tapi wahabi justru mengajarkan cinta Rasul dengan meneladani beliau. Akhirnya saya tahu, oh, jadi Rasul memerintahkan kain celana di atas mata kaki, pantesan mereka cingkrang.
Saya ragu, apa mau cingkrang juga ya? Duh, nggak keren lagi dong kalau ke kampus. Antara menuruti jiwa muda untuk tampil modis atau menuruti perintah Rasul? Yah kok Rasul nyuruh gini sih? Berat hati. Sebenarnya kalau saya mau menolak, ada jalannya, yaitu embusan dari orang-orang bahwa cingkrang itu ciri teroris, bahwa itu sebetulnya nggak wajib, bahwa jangan terlalu kaku lah dengan dalil, memahami hadits harus dari sudut pandang modern… Pokoknya opini-opini yang sifatnya menolak dengan cara ngalor-ngidul dulu mencari-cari pembenaran. Sementara wahabi itu simpel banget: Ada dalil, sahih, kerjakan. Tidak ada, tidak perlu dikerjakan.
Tapi yang sederhana begini, masyaAllah… Dihujat di mana-mana. Apalagi di kalangan penulis intelektual filsafat satiris posmodern, seperti jadi musuh bersama.
Wahabi dibilang anti-maulid, tidak cinta Rasul. Padahal saya lihat mereka yang paling meneladani perilaku Rasulullah. Selama di kampung saya nggak tahu kalo Rasul memerintahkan kain celana di atas mata kaki.
Wahabi dibilang tidak mau shalawat. Padahal saya lihat mereka cuma mencukupkan shalawat yang diajarkan Rasul, yaitu shalawat yang biasa dibaca di tahiyat akhir dalam sholat, bukan shalawat hasil ide-ide kreatif.
Wahabi dibilang melarang ziarah kubur, padahal mereka cuma melarang minta-minta sama orang mati meskipun itu wali, bukan ziarahnya yang dilarang.
Juga dibilangnya wahabi mau bikin mazhab baru, padahal pas kajian mereka tetap mengutip pendapat Imam Syafi’, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad. Bahkan mereka selalu mengkaji, jika 4 pendapat imam itu berbeda, maka mana yang lebih mendekati sunnah, itu yang diikuti, tanpa merendahkan keilmuan salah satu dari imam mazhab. Jadi nggak asal, kita mazhabnya syafi’i, lalu fanatik, sampai ada yang nggak mau nikah dengan mazhab lain.
Dan semua yang wahabi lakukan, itu karena ada dalil dari Rasulullah. Bukan karena ingin memecah belah atau tampil beda atau merasa benar sendiri yang lain sesat.
Bahkan saya lihat, wahabi itu yang paling banyak mengalah dari keinginannya. Gimana gak ngalah? Perempuannya bercadar, jilbab lebar hitam. Padahal kalo dipikir-pikir, kan enakan islam yang ditawarkan kaum liberal, beragama tapi bebas nggak terikat apa-apa. Nggak mesti jilbaban, dll.
Jadi kalau ingin berislam tapi nggak mau disuruh ini itu, saya sarankan ikut liberal, selalu dikasih solusi untuk ngeles. Anda males pake jilbab, tenang, jadilah liberal, baca Quraish Shihab, ada solusinya, jilbab itu nggak wajib kok, anaknya aja nggak berjilbab. Bahkan Anda akan bisa merasa lebih jumawa dari mereka yang pakai cadar…. Lha perempuan wahabi, udah cadaran, sumuk, kehilangan kesempatan bersolek, eh malah jadi bahan olokan. Kalau bukan karena kecintaan terhadap sunnah, dijamin mereka gak akan sibuk merepotkan diri seperti itu.
Sejak itu saya gak terpengaruh lagi dengan opini orang tentang wahabi, mau dibilang gak cinta Rasul kek, dibilang suka membid’ahkan orang kek, suka mengkafirkan orang, merasa masuk surga sendiri yang lain masuk neraka. Karepmu! Sebab saya tahu, realitasnya tidak seperti itu. Dan memang kalau ikut opini orang, nggak bakal selesai.
Masih ingat kan kisah bapak, anak, dan seekor onta? Ketika anaknya naik onta, sementara bapaknya jalan sambil nuntun tali onta, orang-orang bilang, “Anak durhaka, enak-enakan di atas, Bapaknya disuruh nuntun.” Mendengar itu, anaknya turun, lalu ganti, bapaknya naik onta, anaknya nuntun. Orang bilang, “Bapak gak tahu kasihan, enak-enakan di atas onta, anaknya malah disuruh jalan.” Maka sekarang, anak dan bapak berdua sama-sama naik onta. Orang-orang bilang, “Gak tahu kasian sama binatang, onta kurus gitu kok dinaiki berdua.” Ujung-ujungnya bapak dan anak sama-sama jalan nuntun onta. Eh orang masih bilang, “Mereka berdua itu kok goblok banget, punya onta tapi gak dinaikin malah dituntun aja.”
Gitulah, di mana-mana, opini orang gak bisa dijadikan acuan. Apalagi opini dari ahlul pelintir bahasa, wuh, hebat-hebat, yang insecure lah, sesat sejak dalam pikiran lah, ini lah, itu lah. Berbeda dengan wahabi ketika mengomentari sebuah aliran tertentu, itu bukan pakai opini pelintir bahasa, tapi langsung ke akarnya.
Ketika mengomentari syiah misalnya. Pengusung toleransi semu akan menyeret opini bahwa syiah dan sunni cuma perbedaan mazhab, politis, diseret tentang hak asasi, minoritas, dst.. Kalau wahabi langsung ke kitab induk syiah. Bahwa syiah ini menyimpang karena mengkafirkan mayoritas sahabat, menyebut Abu Bakar & Umar sebagai dua berhala Quraisy, menganggap Aisyah sebagai pelacur, menghalalkan darah nashibi (ahlus sunnah), memiliki Al Qur’an 3x lebih tebal, syahadatnya berbeda, adzannya beda, menghalalkan kawin kontrak, malam kawin pagi cerai… Itu. To the point. Kalau alasan itu diterima, mereka memuji Allah. Tidak diterima, tetap memuji Allah.
Saya pun mulai rajin mengikuti kajian wahabi, bahkan yang jauh-jauh dan ustadznya sampai dari Arab. Semakin banyak perbedaan yang bisa ditangkap secara kasat mata:
Pertama. Di kampung saya, kalau kiyai/ustadz datang, itu kadang tangannya jadi rebutan, dicium-cium sama jamaahnya. Bahkan cara cium tangannya itu bisa dramatis sekali ada teknik-teknik tersendiri. Apalagi kalo yang datang itu level syaikh pondok ini, atau anak keturunan syaikh itu, wuh tambah jadi rebutan.
Berbeda dengan kajian wahabi. Biarpun penceramahnya level ulama paling senior dan sepuh pun, sewaktu ulama itu datang dan jalan ke depan, jamaahnya biasa aja duduk.
Kalau pakai opini orang, kesannya wahabi tidak menghormati ulama. Padahal saya melihat, mereka menghormati ulama ya karena ilmunya, bukan karena fisiknya atau keturunan siapa, jadi tidak lebay rebutan cium tangan, apalagi seolah mengkultuskan rebutan air liur, diyakini mustajab, hiii.
Wahabi itu nggak pernah nyebut-nyebut syaikh siapa jadi doa berjamaah, bikin haul. Nggak pernah. Sebab mereka beneran cuma menghargai ilmu, tidak berlebihan terhadap tokoh… Beda di kampung saya, fatihah ila hadarotin syaikh ini, syaikh itu, diulang-ulang tiap ada selamatan, tapi orang-orang nggak tahu syaikh itu siapa sih? Buku kitabnya apa? Nggak ada. Pokoknya kiyai nyebut syaikh itu tiap selamatan, ya sudah sampe turunannya tetap nyebut syaikh itu. jamaahnya ya amin-amin saja terus makan rawon.
Yang kedua. Yang namanya pengajian, di kampung saya biasanya identik dengan nyanyi-nyanyi, baca Al Fatihah, awal Al Baqoroh, ayat kursi, sholawat apa gitu panjang, baru setelah itu ada ceramah. Kalo di wahabi, ustadznya datang, duduk, langsung membuka materi dg khutbatul hajah, lalu mengajar, ada istirahat, tanya jawab, abis itu selesai, pulang. Nggak ribet.
Yang ketiga. Kalo di kampung saya, segala jenis ibadah wis tinggal nyontoh saja, kalo ngaji maghrib itu kadang ada pelajaran sholat dari kiyai, ya sudah langsung baca aja rame-rame dari usholli sampai salam. Tapi di wahabi itu ilmiah sekali, tidak asal ikut ustadznya, melainkan diajari memahami bahwa setiap gerakan sholat itu dilakukan karena ada contohnya, kita melakukan ibadah karena memang ada riwayatnya dari Rasul. Kalau nggak ada riwayatnya, ya nggak perlu repot-repot dikerjakan. Sehingga ketika sholat, setiap gerakan kita terasa dekat dg Rasulullah sebab tahu ada rantai yang bersambung.
Hal lain juga. Saya jadi tahu, misalnya, Allah mengampuni semua dosa kecuali dosa syirik. Dosa syirik tidak akan diampuni kalau pelakunya mati sebelum sempat bertobat. Sebab dosa syirik itu paling besar, paling bahaya, sehingga kita mesti tahu cabang-cabangnya. Bahwa perdukunan itu syirik, meyakini hari sial itu syirik, minta-minta ke orang mati itu syirik, jimat itu syirik, ada syirik besar dan syirik kecil, harus waspada dan selalu mengoreksi diri sendiri.
Sejak itu, ngeri lah karena ternyata banyak keyakinan saya selama ini tergolong syirik, seperti keyakinan kalo nabrak kucing berarti sial, pergi gak boleh hari jumat, dst…. Kalau di kampung saya, yang dimaksud syirik ya menyembah patung berhala. gitu aja. Mana ada hari ini orang islam sekonyol itu nyembah patung? Kalau dosa syirik cuma sebatas nyembah patung, alangkah mudahnya itu dihindari?
Apalagi pas tahu banyak hal yang selama ini biasa saya lakukan, ternyata bid’ah, tidak diajarkan Rasul. Saya yang sudah telanjur ngefans dengan sholawat nariyah dan hapal di luar kepala sejak ngaji jaman SD, kaget lho jadi sholawat nariyah itu bid’ah? Sempat gak terima. Tapi tumbuhnya kecintaan untuk mengenal, “Jadi, islam yang aslinya sesuai Nabi itu gimana?” Itu membuat saya rela untuk melepas atribut kefanatikan dan segala hal yang sudah diyakini sejak kecil. Seandainya saya sudah anti sejak awal, kan bisa dengan mudah mudah langsung saya cap, “Wo, wahabi itu menyalah-nyalahkan orang, masak sholawatan aja nggak boleh.”
Saya lalu menyadari, faktor penting orang sulit menerima kebenaran, adalah karena kebenaran itu menghantam keras pada apa yang sudah diyakininya selama ini sebagai kebenaran.
Sama di masa jahiliyah dahulu, Sebelum Muhammad diangkat sebagai Nabi, beliau sudah digelari Al Amin (yg bisa dipercaya) oleh kaumnya, sebab memang sangat dipercaya, sampai-sampai jika Muhammad berkata, “Ada pasukan musuh di balik gunung ini.” Maka mereka percaya. Tapi setelah mendapat wahyu, mengajak untuk menyembah Allah saja, yang mana itu menghantam keras pada keyakinan kaum Quraisy saat itu, langsung berubah mereka menjuluki Rasulullah jadi Majnun, tukang sihir…
Maka dari itu, ketika ada yang bilang wahabi merasa benar sendiri, itu aneh. Sebab wahabi itu justru orang yang mau mencari kebenaran meski konsekuensinya berat karena harus meninggalkan kebiasaan masa lalu yang sudah dianggap sebagai kebenaran… Kalau sejak awal merasa sudah yakin paling benar, tentu mereka akan tetap dengan keyakinan agama kakek moyang selama ini, nggak mau diingatkan tentang syirik, bid’ah dan lain sebagainya.
Nah. Pada akhirnya, saya salut terhadap mereka ini, yang ikhlas mengajak masyarakat untuk kembali ke agama yang murni, mengingatkan orang bahaya syirik, bahaya bid’ah, meskipun dihujat banyak orang, dituduh sesat, macem-macem. Terserah orang lain menamai mereka wahabi, atau seburuk apapun, itu cuma nama saja, tidak mengubah hakikat…
Tapi anggap saja penamaan wahabi diterima. Coba cek di media netral seperti wikipedia.https://id.wikipedia.org/wiki/Wahhabisme, lalu baca, di mana penyimpangannya? Kenapa kok dimusuhi banget?
Saya juga ingin terus belajar. Semoga kita semua mendapat petunjuk untuk mencari hidayah. Hidayah datang dari Allah. Kita mencari kebenaran bukan untuk menyalah-nyalahkan orang. Selama seseorang ikhlas untuk terus sxmencari agama Allah yang lurus dan menempuh jalan-jalannya, maka akan disampaikan ke tujuannya.***
Diantara kenikmatan yang harus tersyukuri adalah nikmatnya ukhuwah. Iya, ukhuwah, bersaudara karena Allah itu sebuah kenikmatan. Fa ashbahtum Bini’matihi Ikhwana...
Di muka bumi ini, Kalau sekiranya ada sesuatu yang tak bisa dihargai dengan uang, maka diantara jawabnya ialah berupa manisnya ukhuwah. Ukhuwah itu saling menegerti, saling berbagi dan saling mengisi...
Jika diantara kita ada yang berselisih, maka segera selesaikan. Karena nilai persaudaraan jauh lebih mahal ketimbang ego individual...
Karena ukhuwah itu ialah, diantara bunga hati yang bisa terus mekar meski tanpa bantuan air, cahaya dan musim...
---
Ah, Ukhuwah itu memang sebuah kenikmatan.
Semoga ukhuwah ini berkekalan.. Semoga kita bisa bertemu lagi, menikmati ukhuwah ini, tak hanya di dunia akan tetapi pula di surga...
Terima kasih telah bersaudara dengan YPIA dalam proyek-proyek kebaikan...
Adalah sebuah kenikmatan, bisa mendapati saudara shalih seperti kalian. Maka, setelah mencintai Allah dan RasulNya, izinkanlah diri tuk nyatakan;
Uhibbukum fillah ya ikhwah.. ®
---
Nb.
Ketika diucapkan padanya "uhibbuka fillah", sunnahnya ialah kita membalas dengan membaca doa :
احبك الله الذى احببتني له
Ahabbakallahu alladzi ahbabtanii lahu
"Semoga Allah yang membuatmu mencintaiku, turut mencintaimu."
---
Tim Donasi Dakwah YPIA
0857 4722 3366
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
📥 Apakah Bid’ah yang Anda Lakukan Adalah Kebaikan (Hasanah) yang Sudah Diketahui Oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam?
📤 Apabila jawabannya: Ya, beliau sudah mengetahui kebaikan tersebut.
🚧 Maka jawaban ini mengandung tuduhan kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam sebagai orang yang tidak amanah dalam menjalankan tugasnya sebagai rasul, yaitu mengajarkan kepada umatnya seluruh kebaikan yang beliau ketahui. Karena ternyata ada kebaikan yang beliau sudah ketahui dan belum beliau ajarkan kepada umat. Inilah bahaya menganggap bid’ah sebagai ‘hasanah’.
➡ Al-Imam Malik rahimahullah berkata,
🌴 “Barangsiapa berbuat bid’ah dalam Islam yang ia anggap sebagai bid’ah hasanah, maka ia telah menuduh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah mengkhianati tugas kerasulan, karena Allah ta’ala berfirman,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ
🌴 “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu” (Al-Maidah: 3) Sehingga apa yang hari itu bukan ajaran agama, maka pada hari ini juga bukan ajaran agama.” [Al-I’tishom lisy Syaathibi rahimahullah, 1/65-66]
⛔ Andai orang yang mengatakannya bermaksud demikian maka termasuk kekafiran, karena itu berarti pengingkaran terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan pengingkaran terhadap kenabian dan kerasulan beliau.
➡ Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ، وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ
“Sesungguhnya tidak ada seorang nabi pun sebelumku kecuali wajib atasnya menunjukkan kepada umatnya kebaikan yang ia ketahui dan mengingatkan mereka kejelekan yang ia ketahui.” [HR. Muslim dari Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu’anhuma]
📤 Apabila jawabannya: Tidak, beliau belum mengetahui kebaikan tersebut.
🚧 Maka jawaban ini mengandung kesombongan dan penyelisihan terhadap petunjuk Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, karena kalau begitu orang yang berbuat bid’ah itu secara tidak langsung menganggap dirinya lebih baik dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, sebab ia telah mampu mengetahui dan mengamalkan satu kebaikan yang Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak mengetahuinya dan tidak pula mengamalkannya.
➡ Ketika seseorang berkata kepada Al-Imam Malik rahimahullah,
🌴 “Wahai Abu Abdillah dari mana saya mulai ber-ihram? Beliau berkata: Dari Dzul Hulaifah, dari tempat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam ber-ihram. Orang itu berkata: Sungguh aku ingin ber-ihram dari Masjid Nabawi. Beliau berkata: Jangan kamu lakukan. Orang itu berkata lagi: Sungguh aku ingin ber-ihram dari Masjid Nabawi. Beliau berkata: Jangan kamu lakukan, sungguh aku khawatir kamu akan tertimpa fitnah (bencana). Orang itu berkata: Fitnah apakah dalam perkara ini? Padahal aku hanyalah menambah beberapa mil saja! Beliau berkata: Fitnah apakah yang lebih besar dari engkau menganggap dirimu mampu mendahului Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam untuk melakukan satu kebaikan yang tidak beliau lakukan?! Sesungguhnya aku mendengar firman Allah ta’ala,
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
🌴 “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul itu takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih.” (An-Nur: 63) [Al-I’tishom lisy Syaathibi rahimahullah, 1/231-232]
💻 Baca Selengkapnya: https://t.co/BGIcIH9PDx
══════ ❁✿❁ ══════
➡ Bergabunglah dan Sebarkan Dakwah Sunnah Bersama⤵
📡Markaz Ta’awun Dakwah dan Bimbingan Islam:
📮Gabung Channel Telegram: http://goo.gl/6bYB1k
📲Gabung Group WA: 08111377787
🌍www.facebook.com/taawundakwah
🌐www.taawundakwah.com
📱PIN BB: 5D4F8547